Sejarah Desa

SEJARAH DESA PENADARAN

Sejarah Desa Penadaran secara pasti tidak tercatat dalam buku agenda bahkan dokumentasinyapun tidak ada, sehingga sejarah Desa Penadaran hanya berdasarkan cerita turun temurun yang diingat sebagian warga. Oleh karena itu, apabila ada kesalahan atau ketidak akuratan cerita ini mohon saran dan diluruskan agar cerita ini tidak membingungkan masyarakat.

        Asal muasal Desa Penadaran adalah identik dengan kehidupan seorang tokoh ( Suwargi Mbah Karjo Redjo) yang adalah seorang pelarían pada waktu jaman Belanda. Sebagai seorang yang sangat gigih dalam berkarya dan bekerja, beliaulah yang pertama yang membuka hutan dan semak belukar menjadi pemukiman dan areal ladang/ tegalan kemudian baru ada pendatang-pendatang yang lain seperti Mbah Moro Djojo, Mabh Karto Tariman, Mbah Rantiyo ( Mbah Jenggot), Mbah Sundel (Mbah Bunder), dan Mbah Henthong. Selanjutnya orang-orang semakin berkembang dan pemukiman semakin luas sehingga menjadi suatu perkampungan. Karena dulu kebanyakan pendatang yang ada disitu adalah para pelarían maka mereka ada yang berucap/berujar/nadzar (Nadar dalam lidah Jawa) apabila mereka tidak tertangkap dalam pelarían atau persembunyiannya, mereka akan mengadakan selamatan dan terkabulkan. Oleh karena itulah perkampungan tersebut diberi nama Penadaran. Kemudian berkembang dan semakin berkembang sehingga terbentuklah suatu pedukuhan-pedukuhan atau kampung seperti Bantengan. Konon ceritanya tempat tersebut ada seekor banteng yang mati dan dikubur ditempat itu. Oleh karena itulah tempat tersebut disebut kampung Bantengan. Selanjutnya kampung Kedungkakap yang konon ditempat tersebut ada kedung yang terdapat ikan kakap. Kemudian kampung Tempel yang letak geografisnya menempel dengan wilayah Gumuk/Gunung, maka dari itulah wilayah tersebut disebut kampung Tempel. Sedangkan kampung Sasak mempunyai sejarah dimana daerah tersebut dulunya adalah sebuah hutan lebat yang sulit untuk ditembus (disasak dalam bahasa Jawa local) karena ditumbuhi pohon-pohon besar dan belukar. Maka kampung tersebut diberi nama kampung Sasak. Kemudian kampung Tegalrejo, yang merupakan kampung terakhir yang terbentuk. Kampung Tegalrejo disebut seperti itu dikarenakan tempat itu yang menjadi tempat untuk permukiman semakin lama semakin sempit karena adanya pertumbuhan penduduk, maka areal ladang atau tegalan akhirnya dijadikan perkampungan.

       Wilayah Penadaran tersebut akhirnya dipimpin/dilurahi oleh Mbah Brenggas, dan selanjutnya kepemimpinannya dilanjutkan oleh Mbah Siwil. Setelah Mbah Siwil, Penadaran dipimpin oleh Mbah Hoenoes kurang lebih akhir abad ke 18. Setelah Mbah Hoenoes meninggal dunia, ia digantikan oleh Mbah Moekajat hingga sekitar tahun 1937. Mbah Moekajat meninggal dunia, sehingga Desa Penadaran mengadakan pencalonan yang diikiuti oleh tiga calon yaitu Mbah Sastro Sirat, Mbah Parto Sanggrok, dan Mbah Haroen yang dimenangkan oleh Mbah Sastro Sirat. Kemudian Mbah Sastro Sirat menjabat hanya kurang dari dua tahun dan diberhentikan karena diprotes oleh bekas isteri mudanya yang konon berasal dari Blora. Menurut keterangan Mbah Sastro Sirat pada masa mudanya pernah melakukan kejahatan, maka darii tu ia diberhentikan dari jabatan lurahnya. Setelah itu ada pencalona kembali yang diikuti oleh dua orang calon yaitu Mbah Haroen dan Mabh Suwardjo yang dimenangkan oleh Mbah Haroen. Pada masa kepemimpinan Mbah Haroen ini sarana pendidikan sudah mulai ada seperti Sekolah Rakyat (SR), kesenian-kesenian rakyat seperti Wayang Orang, Srandul/Kethoprak, Seni Kuntol/Ndolalak dan Terbang Jawa. Mbah Haroen menjabat lurah ndari tahun 1939 sampai dengan tahun 1965 pada waktu meletusnya peristiwa G.30 S PKI.

       Setelah itu ditunjuaklah pejabat sementara yaitu wakil dan dijabat oleh Kamitua Prayitno selama kurang lebih satu tahun baru kemudian tahun 1967 diadakan pencalonan Kepala Desa yang diikuti oleh dua calon yaitu Mbah Sumami dan Mbah Pardjo yang dimenangkan oleh Mbah Pardjo dan menjabat sampai dengan tahun 1989. Setelah jabatan Mbah Pardjo selesai diadakan pencalonan yang diikuti oleh tiga orang calon yaitu Mbah Mukmin Ratno, Mbah Siswanto, dan Mbah Mugiman yang dimenangkan oleh Mbah Mugiman dan menjabat selama delapan tahun dari tahun 1989 sampai dengan tahun 1997. Pada tahun 1998 terjadi demo di Jakarta yang menuntut reformasi dan bersamaan pada saat itu Penadaran mengadakan pencalonan Kepala Desa dan diikuti oleh dua calon yaitu Mbah Suparmin dan Mbah Priyono yang dimenangkan oleh Mbah Suparmin. Mbah Suparmin menjabat dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2006 (selama 8 Tahun).

       Pada tahun 2007 diadakan pencalonan Kepala Desa yang diikuti oleh tiga calon yaitu Mbah Aminuddin Suhaeri, Mbah Siswanto, dan Mbah Suparmin yang dimenangkan oleh Mbah Suparmin dan menjabat dari tahun 2007 sampai dengan 2014.

http://penadaran-grobogan.desa.id/